Eksistensi LAWE Indonesia Dalam Ajang Inacraft 2017

Koleksi Burung ala LAWE Indonesia
(dok. Andini Harsono)

Ajang tahunan Inacraft menjadi perhelatan akbar dunia kerajinan tanah air. Bahkan wisatawan mancanegara yang sedang berkunjung ke Jakarta mampir ke sini. Ada juga yang sengaja datang ke Jakarta hanya untuk menghadiri Inacraft. Acara yang digelar di Jakarta Convention Center pada 26 – 30 April 2017 ini mengangkat tema Jogjakarta. Nah kan ya sudah makin betah saya berkunjung ke sini :D

Saya termasuk orang yang suka dengan kerajinan. Karena dari kerajinan itulah kita mengenal budaya hingga sejarah suatu daerah. Indonesia memiliki kekayaan budaya yang luar biasa untuk bisa dinikmati siapa saja. “Orang luar” aja mengakui Indonesia itu indah karena budayanya. Inacraft menjadi ruang kreatifitas pengusaha juga penikmat kerajinan seperti saya. Bukan itu saja, geliat perekonomian Indonesia mulai terlihat cepat. Ratusan peserta pameran Inacraft dan ribuan pengunjung Inacraft menjadi bukti bahwa ekonomi Indonesia jauh lebih baik dan Indonesia siap bersaing secara international.

Inacraft 2017
(dok. Andini Harsono)

Sudut Pavilion Jogjakarta di Inacraft 2017
(dok. Andini Harsono)


Salah satu peserta pameran Inacraft 2017 adalah LAWE Indonesia. Setia mengikuti ajang ini, menjadikan LAWE semakin matang dalam mengolah produk-produknya. Terbukti adanya peningkatan dari sisi bisnis tiap tahunnya, tentunya ada target yang ditetapkan oleh management LAWE. Sejak mengenal LAWE beberapa bulan lalu pada ajang yang kurang lebih sama namun lebih kecil, saya langsung jatuh hati pada produknya. LAWE mengangkat tenun lurik asli Jogjakarta menjadi produk unggulannya. Lagi-lagi Jogjakarta membuat saya jatuh hati.

Modifikasi LAWE yaitu lurik dicampur polkadot dan batik
(dok. Andini Harsono)

LAWE juga terus berinovasi terhadap produk-produk yang dihasilkannya. Kreatifitas adalah kunci dari usaha kerajinan. Yang menjadi ciri khas LAWE adalah corak pada kain tenun luriknya. Saya saja sudah bisa membedakan lurik LAWE atau bukan. LAWE juga menciptakan motif burung pada karyanya. Ada 8 jenis burung yang diangkat yaitu Nuri Kalung Ungu, Mandar Padi Kalung Kuning, Gelatik Jawa, Kaca Mata Sangihe, Rangkong Badak, Cekakak Jawa, Cendrawasih Botak dan Pekaka Emas. Masing-masing memiliki keindahannya sendiri.

Produk-produk LAWE hadir beraneka ragam yang semuanya disesuaikan dengan kebutuhan pelanggan. Biasanya pelanggan ini menahun. Artinya mereka setia menantikan karya LAWE lainnya. Mungkin termasuk saya hehe. Pelanggan juga bisa memilih warna dari motif LAWE sesuai dengan kepribadiannya. Pelanggan bisa request corak pada produk yang diinginkannya.

Gantungan Kunci dan pernak pernik LAWE Indonesia
(dok. Andini Harsono)

Aneka tas LAWE Indonesia
(dok. Andini Harsono)


Hal-hal yang dijaga oleh LAWE agar kualitasnya tetap terjaga adalah pengecekan di awal ketika barang tersebut hendak turun untuk dipasarkan. Mulai dari motifnya, kesempurnaan jahitan dan assesorisnya, hingga pada ukurannya semua diperiksa. LAWE menjamin tidak ada barang yang tidak layak untuk dijual ke pelanggan. LAWE masih tergolong muda untuk ukuran sebuah perusahaan tapi karena loyalitas dan kebersamaan, LAWE bisa dengan cepat berkembang.

Fitria Werdiningsih - LAWE Indonesia
(dok. Andini Harsono)


“Rasa memiliki LAWE. Saya merasa memiliki LAWE meskipun saya bukan ownernya. Saya bertanggungjawab untuk kemajuan LAWE dan saya ingin LAWE berkembang dengan baik dan diterima masyarakat menjadi produk favoritnya.” ungkap Fitria yang saya temui di booth LAWE pada Inacraft 2017 lalu.

Setuju banget dengan Fitria bahwa apabila kita sudah merasa memiliki maka dengan sendirinya kita akan merasa bertanggungjawab untuk mengembangkannya, menjaga dan menjadikannya lebih baik lagi. Tak lupa berbagi, LAWE Indonesia membuka LAWE Craft Class. Tujuannya agar bisa sama-sama belajar industri kreatif.

LAWE Craft Class
(dok. Andini Harsono)


LAWE Indonesia optimis bahwa produknya akan menjadi favorit di kalangan anak muda karena corak tenun luriknya pas dipakai siapa saja termasuk anak muda. Pernak pernik seperti tali ikat rambut, bando, gantungan kunci hingga tali ID Card akan menarik para pelanggannya. Saya sendiri sudah mempunyai beberapa koleksi diantaranya tas dengan corak burung Kaca Mata Sangihe, tempat passpor, dompet, dan tali ikat rambut.


My LAWE Collection
(Dok. Andini Harsono)



Meskipun workshop LAWE masih berbasis di Jogjakarta, jangan khawatir, LAWE bisa dipesan melalui websitenya dan juga akun sosial medianya. Ingin membuat souvenir pernikahan atau pesta tapi bosan dengan yang sudah ada? Motif tenun lurik dari LAWE bisa menjadi pilihan barumu. 

Bersama Mba Fitria
(dok. Andini Harsono)

Komentar

  1. Lawe Indonesia menunjukan, sejatinya menghargai produk lokal termasuk menerima penetapan harga yang mahal. barangnya memang berkualitas. k

    BalasHapus
  2. Lurik yang bikin melirik. Senang liat semua koleksi yang bagus-bagus. Nah kan... produk Indonesia ga kalah bagus dgn produk luar. Pokoknya Lawe is The best

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Liburan Murah ke Gunung Mas Puncak Bogor

Sensasi Tea Time Pertama Kali di TWG

Kabupaten Banyumas Akan Menjadi Destinasi Saya Selanjutnya