Walking Tour Mandiri di Chinatown dan Hua Lamphong Bangkok



Sama sekali tidak menyangka bakal kembali ke kota ini setelah sekitar 6 bulan yang lalu saya MainJalan selama 9 hari di Bangkok. Seperti yang sudah-sudah setiap awal tahun saya menyusun berbagai rencana termasuk MainJalan. Tahun 2024 sebetulnya Bangkok tidak masuk ke dalam list, kecuali ada pekerjaan atau kegiatan yang memang mengharuskan saya datang kemari. Ternyata Allah mengabulkan pengecualian saya itu. Sementara sedang berjuang mengumpulkan pundi-pundi agar terlaksana MainJalan ke Vietnam (lagi) tapi rupanya rezeki Allah berikan untuk kembali ke Bangkok dulu. Persiapan sungguhlah singkat. Bisa dikatakan perjalanan dadakan tahu bulat.

 

Setelah kegiatan di sini selesai, saya tidak mau menyia-nyiakan harga tiket yang wow lumayan itu hanya untuk tinggal sebentar di Bangkok. Tentunya saya perpanjang hari di sini tapi tidak bisa terlalu lama karena sudah sangat dekat dengan Ramadan, namun alasan utama sebenarnya budget MainJalan belum tersedia. Kenapa begitu Din? Kenapa tidak diada-adain pakai CC dulu misalnya? Mumpung bisa ke sana. Jawabannya, setiap saya MainJalan dengan budget pribadi, saya selalu merencanakan dengan baik sesuai kemampuan agar ketika jalan-jalan tidak punya beban untuk bayar-bayar kemudian. 

 

Saya nambah 2 hari di sini. Tidak tahu mau kemana, tapi tiap bolak balik ke Bangkok selalu skip dengan 1 kawasan yang menarik bagi saya. Chinatown Bangkok. Jadi saya blusukan sendiri bermodalkan referensi dari vlog dan google aja hehe. Karena saya menginap di kawasan Sathon, perjalanan dimulai dari stasiun MRT terdekat yaitu Lumphini.

 

Walking Tour Chinatown Bangkok

 

Dengan biaya trip menggunakan MRT sebesar THB 24, saya tiba di stasiun MRT Wat Nakhon untuk menikmati Chinatown. Sesungguhnya kawasan ini luas sekali. Apa aja ada di sini. Pusat makanan, pusat konveksi, barang-barang souvenir, obat, hingga elektronik. Tentunya dengan arsitektur bangunan kuno dan vibes Chinese campur Thai yang kental. 



Saya sempat keder dengan tujuan. Karena hanya ingin berkeliling penasaran seperti apa kawasan ini. Saya ikuti kaki melangkah dengan modal melihat maps sebagai patokan. Senang sekali melihat kehidupan ramai orang di sini. Berbelanja bersama keluarga atau besties, makan bareng atau sekedar jalan-jalan melihat-lihat macam saya ini. Banyak saya temui bangunan jadul yang masih aktif digunakan usaha. Terlihat usaha mereka sudah berumur puluhan tahun bahkan mungkin ratusan yang sudah diturunkan sampai beberapa generasi. 

 

Bukan Andini MainJalan namanya kalau tidak spontan dan srimulat meskipun jalan sendiri. Karena kawasan ini banyak ruko dan toko berkotak-kotak, maka banyak menyeberang jalan raya. Setiap mau menyeberang saya selalu mencari barengan orang-orang. Entah ada ide apa tiba-tiba saya mengikuti Mbak-mbak menyeberang dan berjalan menuju tujuannya. Untungnya tujuan dia sama dengan patokan google maps yang memang hendak saya tuju. Coba kalau tidak, pasti nyasar. 

 

Ong Ang Kanal (Walking Street) dan The Old Siam Plaza

 

Setelah berjalan kurang lebih 1 KM dengan mengikuti tujuan Mbak-mbak tadi, saya sampai di Ong Ang Kanal (Walking Street). Kanal yang tak begitu lebar ini dimeriahkan dengan deretan cafĂ© dan pedagang penjual makanan, minuman serta pernak-pernik khas Thailand. Tak terlewatkan hampir di setiap gang-gang di sepanjang kanal berjejer pedagang pakaian, friend snack, inhaler dan sebagainya. Pokoknya Thailand banget deh. 

 

Menarik perhatian banyak orang, ada seorang remaja bersuara merdu bernyanyi di tengah jembatan kanal. Tidak banyak wisatawan yang saya jumpai di sini, mungkin karena masih siang. Konon kawasan ini lebih ramai waktu malam dengan night marketnya. Siang-siang bolong begini yang datang mereka yang ingin menikmati minuman segar di tepian kanal atau berjalan kaki sambil sesekali menghentikan langkah untuk mengambil foto dan video seperti yang saya lakukan. Rumah-rumahnya masih terlihat tradisional meskipun sudah modern beberapa furniturenya. Tetap tidak menghilangkan “rasa”nya.


 

Perut sudah mulai bernyanyi riang mengikuti irama gadis remaja tadi. Saya mulai mencari makanan halal di sekitar sini. Berdasarkan peta ada di dalam mall The Old Siam. Tapi setelah berkeliling beberapa kali kenapa tempatnya tidak ada? Oke baiklah. Saya melihat-lihat isi mall aja. Mallnya mirip-mirip sama Citos tapi ini versi tuanya. Mirip-mirip Pasar Baru dan mirip-mirip Pasar Seni Kuala Lumpur. Barang-barang yang dijual rata-rata produk lokal Thailand. Baju tradisional sangat mudah ditemukan di mall ini. Oya yang menarik perhatian sepanjang jalan menuju ke The Old Siam Plaza adalah toko emas yang ramai dikunjungi orang-orang sampai antriannya mengular. Wow orang Bangkok luar biasa.

 

Karena letih mencari restoran halal yang tak kunjung ditemukan maka saya memutuskan untuk beralih ke destinasi berikutnya. Mengunjungi Masjid terdekat adalah cara sederhana menemukan makanan halal. Ada beberapa Masjid yang dekat. Paling dekat Masjid Thai-Pakistan Friendship tapi kalau jalan rasanya sudah tidak sanggup sehingga saya naik MRT aja hoho. Rupanya ada 2 stasiun. Bayangkan kalau saya nekat jalan kaki *pengsan.

 

Jalan Kaki Menyusuri Daerah Hua Lamphong

 

Dari MRT Sam Yot menuju MRT Hua Lamphong kembali melewati MRT Wat Nakhon tempat turun saya yang pertama. Ongkos tripnya THB 19. Dari stasiun Hua Lamphong saya berjalan kaki sejauh 1 kilometer melewati jalanan besar dengan ruko-ruko, lalu bawah kolong jembatan layang, kemudian jalanan menyempit dan menemukan pemukiman penduduk. Sejauh mata memandang semuanya penduduk lokal. Karena hari libur jadi daerah sini sepi. Mungkin karena daerah perkantoran (ruko), bukan kawasan turis, dan orang-orang lebih memilih tinggal di rumah atau jalan-jalan ke pusat kota. Bahkan Seven Eleven yang biasanya ditemui setiap sekian meter aja di sini jarang sekali. Kaki terus melangkah hingga akhirnya menemukan bangunan tua hampir ambruk karena ditunggangi pohon besar berakar kuat. Rasa hati ingin ambil fotonya tapi rasa hati yang lain jangan karena kok sepertinya horror -.-

 

Alhamdulillah Bangkok tidak sepanas biasanya namun debunya cukup tinggi. Walaupun kadang mendung dan teduh tetap aja keringat bercucuran. Lagi-lagi saya tidak menemukan tempat tujuan. Saya berpikir dadakan kemana lagi nih? Saya scroll rupanya ada Masjid dekat dari tempat saya berdiri. Masjid Bangkok. Saya berdoa semoga kali ini bertemu. Masjid yang terletak di gang-gang rumah warga beneran berasa jadi penduduk setempat sedang menunaikan ibadah sholat. Uniknya, saya tidak menemukan jamaah perempuan sholat di sini. Mungkin karena sholat dzuhur jadi mereka memilih sholat di rumah. Tempat sholat perempuannya juga agak membingungkan. Ketika mau masuk, saya didatangi oleh imamnya yang menunjukan dimana tempat wudhu dan sholat. Ada TPA dan majlis juga. Di tempat saya sholat ada papan tulis panjang yang masih ada tulisan bekas majlis saya rasa. Tulisannya menceritakan tentang Death Series. Allahuakbar. Lagi jalan-jalan tetap diingatkan tentang kematian.

 

Bangkok Mosque sepertinya merupakan lingkungan muslim India – Pakistan dan timur tengah. Karena saya menjumpai wajah-wajah asli sana di masjid dan sekitarnya.



Makan Siang Keder Dengan Warung Pada Tutup

 

Di dekat masjid biasanya banyak warung makan halal kan? Tapi tidak dengan daerah ini. Ada yang terdekat tapi semua tutup. Jalanan sepi. Lalu saya terus berjalan mencari makanan halal sambil menahan lapar. Alhamdulillah nyasar.

 

Tujuannya mana nyampenya kemana. Entah kenapa perjalanan kali ini selalu tidak sampai pada tujuan. Apa yang dicari sulit ditemukan tapi tiba-tiba diganti dengan yang lebih nyaman. Tsahelah. 

 

Silom Halal Food yang saya idamkan menjadi penawar lapar dan letih, tak jua kutemui. Akhirnya ada warung bernama Habibi spesialis masakan Timur Tengah dan India menjadi penggantinya. Begitu buka pintu langsung disambut salam dan senyum dari Abang pemilik warung. Restoran full AC dengan tempat duduk nyaman serta menu yang lumayan beragam mungkin tempat yang tepat menurut Allah untuk saya istirahat sambil makan siang. Tanpa berlama-lama Chicken Biryani menjadi pilihan. Porsi luar biasa pemirsa, saya hanya sanggup menghabiskan setengahnya. Lalu si Abang nyamperin nanya, gimana makanannya? Kenapa tidak dihabiskan? Yaelahh.. *lol

 

Di meja belakang saya, ada Mbak-mbak bule makan sendirian juga. Diwawancara sama Abang, rupanya si Mbak datang dari Vienna. Memang sih sejak dari Chinatown sampai ke Habibi ini, jarang sekali menemukan turis. Kalaupun ada, ya yang tipe-tipe backpacker pecinta sejarah, atau sudah usia pensiun yang memilih jalan-jalan keliling dunia. 

 

Puas isi perut serta tenaga sudah kembali pulih, saya lanjutkan perjalanan. Ternyata Silom Halal Food berjarak 3 ruko dari Habibi. Ya Allah Ya Tuhanku remuk hatiku kenapalah tadi mata ini tidak melihatnya. Karena penasaran sekaligus geram akhirnya saya intip. Menunya menggoda tapi ya balik lagi, memang harusnya saya makan di Habibi yaa.


Jalan sedikit ke arah jalan raya dari Restoran Habibi ada Masjid megah bernama Mirasudden. Tahu gitu tadi saya sholat di sini aja ya. Boleh lah nanti kapan kalau ke Bangkok lagi, Masjid ini akan saya masukan dalam itinerary.

 

Mendinginkan Diri di Roots Coffee Surasak

 

Kembali berjalan tanpa arah dan ternyata sudah sampai di kawasan yang tidak asing maka saya memutuskan untuk kembali mengademkan diri serta menikmati kopi sore di coffee shop yang waktu bulan Agustus 2023 lalu saya pernah kunjungi. Coffee shop ini nampaknya hits di sini jadi ramai. Saya suka vibesnya dan tentu kopinya cocok. Tidak bikin mules. Akhirnya saya minum kopi beneran tanpa gula dan doyan *lol. Saya menikmati Ice White Coffee yang ukuran 12oz dengan harga THB 140. Kopi enak, vibes nyaman, staf ramah, wifi kencang, dah lah kurang apa lagi?



Lagi-lagi dengan MainJalan saya semakin bersyukur. Perjalanan dadakan tanpa tujuan ini memang beneran tanpa tujuan karena setiap akhirnya memilih tujuan selalu tidak ketemu. Mungkin memang saatnya berjalan tanpa tujuan dulu biar Allah yang memberi tujuan dengan menuntun setiap langkahnya. Pastinya membuka mindset saya dengan bertemu orang-orang, melihat kehidupan lain dari Bangkok yang biasanya saya hanya lihat hingar bingar. Apapun itu, semoga saya dan teman-teman yang membaca ini mendapat makna dari setiap perjalanan dalam hidup. Salam sehat, salam bahagia, salam MainJalan.

17 komentar

  1. Waaah lihat cerita ini jadi inget perjalanan backpackerku ke Bangkok berdua sama adik tahun 2014. Waktu itu internet masih belum kayak sekarang, agak sulit juga kami cari makanan halal. Jadi kangen deh pengen ke Bangkok lagi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Kak. Kebayang jaman belum ada google maps, saya udah ada google maps aja nyasar gimana gak ada ya hehe. Ayo Kak liburan lagi ke Bangkok. Tambah ruamee :)

      Hapus
  2. Pingin jalan-jalan ke Thailand tapi belum kesampaian dari tahun lalu. Semoga mendatang terwujud dan bisa tulisan mbak Andini bisa jadi rekomendasi. hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bismillah saya doakan semoga tahun ini terwujud jalan-jalan ke Thailandnya yaa Kak :)

      Hapus
  3. kak seru dan lucu banget ceritanya di bangkok ini, buat aku yang gak pernah ke sana jadi bisa ada bayangan biar gak kejadian kaya kaka, hihihi ditunggu lanjutan ceritanya kak

    BalasHapus
  4. Seruu banget jalan2nya, mba. Kalau ke Bangkok keknya seru cobain jalan2 ginian. Aku pernah walking tour juga pas di semarang. Bangunannya yang didatengin kawasan kota lamanya.

    BalasHapus
  5. Jadi ingat beberapa tahun silam pernah walking tour sendirian di Bangkok juga menyusuri gang-gang yang entah namanya apa, tau-tau nongol sudah berada di sebuah gereja di pinggiran sungai Chao Phra Ya.. Random dan seru banget.

    BalasHapus
  6. Seru juga ya walking tour sendirian seperti ini
    Kawasan Chinatown memang sangat cocok untuk destinasi walking tour

    BalasHapus
  7. Seru dan menarik cerita MainJalan ke Bangkok. Sulitnya mencari dan menemukan masjid juga tempat makan halal, walau akhirnya bertemu juga.

    BalasHapus
  8. Seru sekali perjalanannya, syukurlah bisa menemukan makanan halal dan masjid terdekat. Bisa makanan di tempat yang nyaman. Jadi, ingin mencoba juga perjalanan di Thailand.

    BalasHapus
  9. Ternyata asik juga ya Mba walking tour mandiri kayak gini, tujuan yang dipengen nggak ketemu yaudah nyari yang lain atau ketemunya apa bisa mampir, no ngeluh-ngeluh ke diri sendiri :-D happy banget ^^

    BalasHapus
  10. Aman yaa..jalan kemana kaki melangkah..
    Ini santuy banget sii.. berasa bisa menikmati dan mengenal sedikit kota Bangkok daei kacamata wisatawan.

    BalasHapus
  11. Belum pernah ke Bangkok
    Baca ini jadi bisa membayangkan situasinya
    Mirip seperti Filipina

    BalasHapus
  12. Aku udah kayak di hipnotis bahasa kakaknya.. serasa aku yang lagi jalan jalan di Bangkok huhuhu..
    Somoga rezeki bisa kesana...

    BalasHapus
  13. Baca ini berasa banget atmosfernya lagi walking tour di Thailand, suasananya jadi terbayang kak, hihii. Padahal aku belum pernah kesana, apalagi di part pas lagi ngadem sambil minum ice coffee, duh buru2 nih masukkin wish list yg perlu disinggahi

    BalasHapus
  14. Asik banget bisa ke Bangkok ya mbak. Saya juga ada trip ke Bangkok beberapa waktu ke depan jadi bisa tahu tempat minum coffee ini ya mbak.

    BalasHapus
  15. aku pun kalo traveling pasti dengan perencanaan mateng mba.. ga mau hanya sekedar beli dari CC, trus bayar belakangan... krn biar gimana traveling ku rutin tiap tahun.. jadi semuanya harus di oragnized dengan bener... ga mungkin gali lubang tutup lubang kan :D.

    jalan2 tanpa itin begini seruuuu loh... tapi biasanya hanya di negara2 yg aku udh beberapa kali datangin. kalo masih baru, ga sih.. eh tapi saat ke belarus Januari kemarin aku dan temen2 santai banget, jd memang ga bikin itin ribet.. kalo ketemu syukur, kalo gaaa ya udah :D.

    kayaknya makin usia segini, makin males yg terlalu ngoyo tipe jalannya ;D. lebih suka menikmati, ya kan?

    BalasHapus