Jeda di Masjid Luar Batang Jakarta Utara

Andini Harsono di Masjid Luar Batang

Sudah sejak lama saya ingin berwisata religi ke Masjid Luar Batang, Jakarta Utara. Alhamdulillah Allah izinkan saat mengawali bulan Mei 2026 kemarin. 

Masjid Jami Keramat Luar Batang dibangun oleh Habib Husein pada abad ke-18 yang menyimpan cerita sejarah. Mengapa dinamai Luar Batang? 

Nama Masjid diberikan sesuai dengan julukan Habib Husein yaitu Habib Luar Batang. Menurut cerita, ketika beliau meninggal dan hendak dikuburkan di Tanah Abang, jenazahnya tidak ada di "kurung batang". Kejadian tersebut berlangsung berulang kali sehingga jamaah sepakat untuk memakamkan di tempat sekarang ini. Maka dimaksudkan keluar "kurung batang". 

Habib Husein bin Abubakar bin Abdillah Al-Aydrus merupakan seorang Arab Hadramaut yang hijrah ke tanah Jawa melalui Pelabuhan Sunda Kelapa pada tahun 1736. Beliau dikenal sebagai penentang Kolonial Belanda di kawasan Sunda Kelapa sehingga pernah merasakan kehidupan penjara sebelum akhirnya meninggal pada usia yang masih tergolong muda yaitu di bawah 40 tahun.

Selain Habib Husein terdapat makam Haji Abdul Kadir yang merupakan sahabat sekaligus murid kesayangannya. Haji Abdul Kadir meneruskan dakwah Habib Husein dan mengubah surau kecil menjadi Masjid.

Masjid ini berada di tengah pemukiman warga yang cukup padat serta dekat dengan pasar ikan. Tempat parkirnya cukup luas dan terdapat deretan warung makan serta souvenir. Saya bersama Mak Tati Hidayat berada di sana mulai dari shalat Ashar hingga Isya. Kami sempat mengisi perut dengan ayam bakar rumahan dekat Masjid dan ternyata rasanya wow sedap hehe.

JEDA : Melihat Segala Sesuatunya Lebih Jauh Agar Logika dan Rasa Seimbang

Setiap harinya banyak jamaah yang datang untuk ziarah selain untuk beribadah melaksanakan shalat. Saat shalat Ashar selesai dan ziarah dimulai, Mak Tati bergegas mengambil tempat sementara saya masih duduk berdiam, berdzikir dan berdoa di tempat shalat. 

Lantunan ayat-ayat suci Al-Quran terdengar begitu syahdu hingga ke kalbu. Perlahan tapi pasti, air mata saya menetes. Tidak ada yang lebih mengharukan ketika mendengarkan "surat cinta" dari Allah. Momen ini saya jadikan untuk introspeksi diri kalau istilah yang sekarang sering digunakan adalah kontemplasi. Semakin dalam saya berdiam diri, saya mendapat satu kata kunci "jeda".

Apakah bisa kita terus menggunakan logika dalam segalanya apalagi saat mengambil keputusan? Bagaimana kalau ternyata logika itu malah menjauhkan dari yang sebenarnya? Beberapa pertanyaan seperti itu berputar di kepala sehingga ada jawabannya yaitu, gunakan rasa.

Adakalanya kita menjeda logika kita dan menggunakan rasa agar keputusan apapun yang diambil bisa mendapat hasil dari penilaian seimbang. Dalam hal ini saya menangkapnya, kita diminta untuk kembali menjadi manusia yang memiliki rasa, memiliki welas asih yang bermanfaat bagi kebaikan bukan hanya di luar diri tetapi ke dalam diri sendiri. Artinya welas asih bukan hanya untuk orang lain melainkan bagi diri sendiri (self-love)

Jeda di sini juga bisa berarti berhenti sejenak dari segala rutinitas yang sifatnya duniawi untuk kembali pada Yang Haq, dalam hal ini melaksanakan shalat lima waktu sebagai kewajiban seorang muslim.

Setelah selesai berdoa, saya bergabung bersama mereka yang sedang berziarah. Air mata kembali perlahan menetes karena 'rasa' ini kembali bergetar lembut mengajak untuk sepenuhnya bergantung pada Allah SWT dan meneladani Rasulullah SAW. 

Terbayang juga oleh saya, bagaimana perjuangan beliau melaksanakan perannya sebagai pendakwah mengajarkan Islam di bumi Nusantara. 

Perjalanan ini sungguh memberi pengalaman religi sendiri bagi saya. Salah satu bukti bahwa ilmu dan kebaikan tidak akan pernah hilang sampai kapanpun yaitu dengan berziarah ke wali-wali Allah. Maksudnya, ilmu agama Islam yang diajarkannya akan tetap abadi dan tetap bisa kita ikuti tentunya melalui berbagai literatur.


Andini Harsono di Masjid Luar Batang


Transportasi Umum Menuju Masjid Luar Batang Tidaklah Sulit

Alhamdulillah Jakarta terus berbenah memberikan fasilitas transportasi umum yang lebih aman, nyaman, dan menjangkau ke seluruh wilayahnya. Masjid Luar Batang yang berada di Penjaringan, Jakarta Utara bisa dijangkau menggunakan Transjakarta. 

Saya yang tinggal di Jakarta Selatan menggunakan KRL Commuter hingga ke Jakarta Kota lalu berganti Transjakarta Rute Pluit - Kota 12B dari Halte Kali Besar (depan Toko Merah) turunnya di Halte Masjid Luar Batang yang berada di seberang kawasan Masjid. Dilanjutkan jalan kaki sekitar 400 meter.

Jadi kalau teman-teman MainJalan belum ada agenda di akhir pekan, bisa menjadikan Masjid Luar Batang sebagai tujuan perjalanan religi sekaligus sejarah. Mengenang dan mendoakan para pendahulu yang berjuang mengajarkan Islam di Nusantara.

Alhamdulillah 'ala Kulli Hal, terima kasih telah ikut berwisata religi ke Luar Batang dengan menyelesaikan membaca artikel ini :) 

Tidak ada komentar